Yayasan Pendidikan Al-Iman Bulus Gelar Pembinaan Guru Bersama Ustadz Hasan bin Agil Baabud

Dalam rangka meningkatkan profesionalisme tenaga pendidik, Yayasan Pendidikan Al-Iman Bulus menyelenggarakan kegiatan Pembinaan, Penguatan, dan Peningkatan Profesionalisme Guru, Staf, dan Karyawan di Bawah Naungan Yayasan Pendidikan Al-Iman. Acara ini digelar pada Ahad, 17 Agustus 2025 di Masjid Abdullah Bahnan, Bulus, dengan menghadirkan Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Al-Iman Bulus, Ustadz Hasan bin Agil Baabud, sebagai narasumber utama. Kegiatan tersebut dihadiri oleh segenap jajaran guru, staf, dan karyawan di bawah naungan Yayasan Pendidikan Al-Iman Bulus, serta keluarga besar pengasuh Pondok Pesantren Al-Iman Bulus.

Uniknya, pesan sosialisasi disampaikan dalam bentuk komik yang dicetak seukuran A0 dan ditempel di papan majalah dinding (mading). Ada dua judul komik literasi yang dipamerkan, yaitu komik ‘Belum Saatnya Naik Motor’ dan ‘Mau Sok-Sokan Malah Sial’. Keduanya menceritakan tentang bahaya berkendara di bawah umur, karena mental dan pengetahuan akan rambu-rambu lalu lintas yang belum matang. Sombo Duli, koordinator tim Pendidikan.id menjelaskan, “pelajar remaja emosinya masih belum stabil. Mereka menganggap diri mereka keren dengan kebut-kebutan, melanggar lalu lintas dan memodifikasi sepeda motor. Lagipula mereka belum memiliki SIM yang artinya mereka belum menguasai materi berkendara dan berlalulintas.”

Dalam pembinaannya, Ustadz Hasan menekankan bahwa seluruh jajaran guru harus berlandaskan pada niat khidmah. “Semua jajaran guru di Al-Iman Bulus harus dilandasi dengan niat khidmah. Niat khidmah, niat mengabdi itu enak,” tegasnya.
Lebih lanjut, beliau menyampaikan bahwa saat ini madrasah Al-Iman termasuk dalam urutan lima besar pondok di Jawa Tengah. Oleh sebab itu, peningkatan kinerja menjadi hal yang sangat dibutuhkan. “Kita menginginkan anak didik kita disiplin, maka kita juga harus disiplin. Karena guru itu singkatan dari digugu lan ditiru. Itulah yang berat. Bukan masalah mengajarnya. Jadi kita memberi contoh pada mereka, kita menginginkan anak didik kita disiplin, pinter, sopan, ya kita harus disiplin, pinter, dan sopan,” ujarnya.
Ustadz Hasan juga menegaskan bahwa guru tidak hanya bertugas mengajar, melainkan juga mendidik dengan memberikan keteladanan. “Kita tidak sebatas mengajar, tapi mendidik. Maksudnya apa? Murid kita itu bukan di kelas saja, mereka santri kita bukan di pondok saja. Termasuk sampai di rumah itu murid kita. Kalau sudah begitu, mereka menganggap kita guru ya sampai rumah. Mengajar itu adalah teori, mendidik adalah praktek,” tuturnya.
Selain itu, beliau mengingatkan pentingnya menjaga kekompakan bersama dan semangat berbagi ilmu. “Dan jaga kekompakan, bareng-bareng. Ilmu itu (تزاد بالإنفاق) tuzaadu bil infaq, bertambah jika kita berikan.
من علّم علما ورّث الله علما الذي ما لم يعلم
“Barangsiapa mengajarkan satu ilmu Allah akan mewariskan satu ilmu yang kamu tidak ketahui.”
Lebih baik mau mengajar, salah, daripada pintar tapi tidak mau mengajarkan. Asal niat kita benar-benar ikhlas lillahita’ala, tidak ada pekerjaan berat. Jika ada pekerjaan berat, kita pusing, itu karena kita tidak ikhlas,” jelasnya.
Melalui pembinaan ini, Ustadz Hasan meneguhkan kembali peran penting guru sebagai teladan bagi peserta didik. Dengan mengedepankan keikhlasan, disiplin, dan kekompakan, diharapkan seluruh tenaga pendidik mampu mewujudkan cita-cita besar lembaga dalam membentuk generasi santri yang berilmu, berakhlak, dan disiplin.

Bagikan :

Download App Web Madrasah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman

Download App Web Madrasah

Nikmati Cara Mudah dan Menyenangkan Ketika Membaca Buku, Update Informasi Sekolah Hanya Dalam Genggaman